Selasa, 28 Maret 2017

LAPORAN IKTIOLOGI "Sistem Pernapasan Ikan"



I.       PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Iktiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang ikan dan semua yang menyangkut tentang aspek kehidupannya, mulai dari tingkah laku, makanan dan kebiasaan makan, habitat, reproduksi dan siklus hidup, morfologi dan anatomi yang menyangkut sistem integumen, sistem urat daging, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem peredaran darah, sistem urogenitalia, sistem peredaran darah, hingga yang sangat kompleks yaitu sistem saraf.
Secara umum, ikan memiliki sistem pernapasan yang sama. Namun, pada beberapa jenis ikan tertentu memiliki sistem pernapasan yang berbeda. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya habitat, suhu, serta kebergaman organisme di lingkungan hidupnya. Organ pernapasan ikan memegang peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya, contohnya pada beberapa jenis ikan tertentu melakukan adaptasi terhadap organ pernapasannya guna menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan praktikum sistem pernapasan.







B.   Tujuan dan Manfaat
Tujuan dilakukannya praktikum ini untuk mengamati letak bagian-bagian alat yang digunakan dalam proses pernapasan yang meliputi insang serta ada atau tidaknya alat pernapasan tambahan yang biasanya terdapat pada beberapa jenis ikan tertentu.
Adapun manfaat dilakukannya praktikum ini agar praktikan dapat mengetahui letak bagian-bagian alat yang digunakan dalam proses pernapasan yang meliputi insang serta ada atau tidaknya alat pernapasan tambahan yang biasanya terdapat pada beberapa jenis ikan tertentu.















II.     TINJAUAN PUSTAKA
A.   Klasifikasi
Menurut Senen (2011), ikan layang (Decapterus russelli) diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom    : Animalia
             Phylum    : Chordata
             Class    : Actinopterygii
                       Order    : Percomorphi
                            Family   : Carangidae
                                     Genus    : Decapterus
                                              Species    : D. russelli
received_1838449333041048.jpeg                                             
                                                      





                       Gambar 1. Ikan layang (D. russelli)
                                       (Sumber Dok. Pribadi, 2016)






Klasifikasi dari ikan timun (Lutjanus casmira) menurut Hastuty (2014), sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
           Phylum : Chordata
                   Class : Osteichthyes
                             Order : Perciformes
                                        Family : Lutjanidae
                                                           Genus : Lutjanus
                                                                 Species : L. casmira
                 received_1838449143041067.jpeg
                        Gambar 2. Ikan timun (L. casmira)
                                          (Sumber Dok. Pribadi, 2016)

B.   Morfologi
 Ikan layang (D. russelli) merupakan salah satu komunitas perikanan pelagis kecil yang penting di Indonesia. Ikan yang tergolong suku Carangidae ini bisa hidup bergerombol. Ukurannya sekitar 15 cm meskipun ada pula yang bisa mencapai 25 cm. Ciri khas yang sering dijumpai pada ikan layang (D. russelli)  ialah terdapatnya sirip kecil (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur dan terdapat sisik berlingin yang tebal (lateral scute) pada bagian garis sisi (lateral line). Deskripsi ikan layang biasa (D. russelli), badan memanjang, agak gepeng. Dua sirip punggung, sirip punggung pertama berjari-jari keras 9 (1 meniarap + 8 biasa), sirip punggung kedua berjari–jari keras 1 dan 30 – 32 lemah. Sirip dubur berjari-jari keras 2 (lepas) dan bergabung dengan 22 – 27 jari sirip lemah. Baik di belakang sirip punggung kedua dan dubur terdapat 1 jari-jari sirip tambahan (finlet) termasuk pemakan plankton, diatomae, chaetognatha, copepoda, udang-udangan, larva-larva ikan, juga telur-telur ikan teri (Stolephorus sp). Hidup di perairan lepas pantai, kadar garam tinggi membentuk gerombolan besar. Dapat mencapai panjang 30 cm, umumnya 20 – 25 cm. Warna: biru kehijauan, hijau pupus bagian atas, putih perak bagian bawah. Sirip-siripnya abu-abu kekuningan atau kuning pucat. Satu totol hitam terdapat pada tepian atas penutup insang (Prihartini, 2006).
Ikan karang memiliki bentuk  memanjang, agak pipih, badan tinggi, dan mempunyai gigi taring. Dari segi warna, ada yang berwarna merah, putih kuning, kecoklatan dan perak. Merupakan predator ikan, crustaceans, dan plankton feeder. Bentuk berbeda antara ikan dewasa dan ikan kecil (wahyuningsih, 2006).

C.   Habitat dan Penyebaran
 Menurut Prihartini (2006), ikan layang (D. russelli) yang mempunyai daerah sebaran yang luas di Indonesia, khususnya di Perairan Laut Jawa. Di Laut Jawa sangat dominan dalam hasil tangkapan nelayan mulai dari Pulau Seribu, hingga P. Bawean dan P. Masalembo, Selat Makassar, Selat Karimata, Selat Malaka, Laut Flores, Arafuru, Selat Bali. D. russelli tersebar di perairan tertentu. Tampaknya ikan layang (D. russelli)  senang hidup di perairan dangkal seperti Laut Jawa. Ikan layang (D. russelli) termasuk jenis ikan perenang cepat, bersifat pelagis, tidak menetap dan suka bergerombol. Jenis ikan ini tergolong “stenohaline”,  hidup di perairan yang berkadar garam tinggi (32 – 34 promil) dan menyenangi perairan jernih. Ikan layang (D. russelli) banyak tertangkap di perairan yang berjarak 20 – 30 mil dari pantai. Sedikit informasi yang diketahui tentang migrasi ikan, tetapi ada kecenderungan bahwa pada siang hari gerombolan ikan bergerak ke lapisan air yang lebih dalam dan  malam hari kelapisan atas perairan yang lebih. Ikan layang (D. russelli)  meskipun aktif berenang, namun terkadang tidak aktif pada saat membentuk gerombolan di suatu daerah yang sempit atau disekitar benda-benda terapung. Secara ekologis sebagian besar populasi ikan pelagis kecil termasuk ikan layang (D. russelli) menghuni habitat yang relatif sama, yaitu di permukaan dan membuat gerombolan di perairan lepas pantai, daerah-daerah pantai laut dalam, kadar garam tinggi dan sering tertangkap secara bersama.
            Komunitas ikan karang mempunyai hubungan yang erat dengan terumbu karang sebagai habitatnya. Struktur fisik dari karang batu Scleractinia sangat cocok berfungsi sebagai habitat dan tempat perlindungan bagi ikan karang, dimana beberapa jenis ikan karang menggunakan habitat ini sebagai tempat berlindung dari predator dan merupaqkan daerah yang aman untuk tumbuh dewasa dan merupakan daerah yang digunakan untuk mencari makan dengan memanfaatkan langsung karang tersebut (Manembu, 2012).

D.   Reproduksi
 Menurut Prihartini (2006), musim pemijahan ikan pelagis kecil di perairan Laut Jawa relatif panjang tetapi masing-masing individu lama memijah dalam periode singkat. Keberadaan juvenil ikan layang (D. russelli)  (ukuran kurang dari 12 cm) hanya terjadi pada bulan Maret sampai Juli. Tingkat kematangan gonad ikan layang (D. russelli) pada tingkat matang (ripe) dijumpai pada bulan April sampai Juni, sedangkan pada tingkat lepas telur (masa istirahat dan menyerupai kantong kosong) terjadi pada bulan sampai Desember. Juvenil kecil telah dijumpai antara bulan Maret sampai Mei antara ukuran 6 cm. Telur dan larva ikan layang (D. russelli) telah ditemukan di Perairan Bawean pada bulan April–Mei dan di sekitar perairan Madura pada bulan Oktober-November. Ikan siap memijah dan tumbuh menjadi ikan kecil (kurang dari 12 cm) terjadi dari bulan Maret sampai Juni. Musim pemijahan terjadi pada bulan Mei sampai Desember dengan aktifitas maksimum mulai bulan September–Desember.
Reproduksi ikan timun (L. casmira) dengan cara ovipar (bertelur). Ikan ini biasanya bertelur dengan cara menyimpan telur di karang atau di sekitar karang. Ikan ini bereproduksi pada musim semi di dasar perairan berbatu (terumbu karang), ikan ini melakukan pemijahan di daerah tropis pada umumnya terjadi setiap saat dan dapat terjadi sepanjang tahun (Neviaty, 2011).

E.   Makanan dan Kebiasaan Makan
Secara biologi ikan layang (D. russelli) merupakan plankton feeder atau pemakan plankton kasar yang terdiri dari organisme pelagis meskipun komposisinya berbeda masing-masing spesies copepoda, diatomae, larva ikan. Sumber daya tersebut bersifat ‘multispecies’ yang saling berinteraksi satu sama lain baik secara biologis ataupun secara teknologis melalui persaingan (competition) dan atau antar hubungan pemangsaan (predatorprey relationship) (Prihartini,2006).
Ikan karang memanfaatkan karang secara langsung sebagai sumber makanan sekitar 50 – 70% ikan yang ada di terumbu karang merupakan kelompok ikan karnivora, 15 - 20% kelompok herbivora dan sisanya omnivora. Ikan dari kelompok tersebut sangat bergantung pada kesehatan karang untuk memperoleh makanannya (Manembu, 2012).

F.       Nilai Ekonomis
Potensi lestari sumberdaya perikanan pelagis kecil di Laut Jawa diperkirakan sekitar 340.000 ton per tahun dengan tingkat pengusahaan sudah mencapai 130,26 %, beberapa jenis ikan pelagis kecil yang telah mengalami pengusahaan yang berlebihan, yakni ikan laying (D. russelli), tembang, sero dan selar. Hal ini terbukti secara biofisik antara lain menurunnya hasil tangkapan per hari, menurunnya ukuran rata-rata ikan yang mendominasi hasil tangkapan, dan semakin jauhnya daerah penangkapan (Prihartini, 2006).
Ikan karang merupakan ikan target yang memiliki nilai ekonomis penting. Ikan ini biasa tangkap untuk dikonsumsi, namun ada beberapa pihak yang menangkap ikan ini untuk dijadikan sebagai ikan hias  (Wahyuningsih, 2006).

G.      Pernapasan Ikan
Pernapasan merupakan proses pengikatan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida oleh darah melalui permukaan organ pernapasan. Oksigen merupakn zat yang mutlak dibutuhkan oleh tubuh ikan untuk mengoksidasi zat makanan berupa karbohidrat, lemak dan protein sehingga menghasilkan energi. Pada proses pernapasan, pertukaran zat terjadi secara difusi, yaitu suatu aliran molekul gas dari lingkungan yang berkonsentarasi gasnya tinggi ke lingkungan yang komnsentrasi gasnya lebih rendah. Proses difusi terjadi pada dindinmg atau membran yang tipis dan lembab serta adanya perbedaan konsentrasi gas antara lingkungan luar dengan lingkungan  dalam (kapiler darah) (Nadia, 2014).
III.      METODE PRAKTIKUM
A.   Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Oktober 2016, pukul 16.00-18.00 WITA, yang bertempat di Laboratorium Oseanografi, Gis, dan Remote Sensing, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B.   Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum dapat dilihat pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Alat dan bahan beserta kegunaannya
No
Alat dan Bahan

Kegunaan
1.
Alat


        -
Mistar

Mengukur ikan
        -
Kertas HVS

Mengalas ikan
        -
Alat tulis

Mencatat hasil praktikum
        -
Baki

Menyimpan ikan
        -

         -
Pisau bedah dan gunting bedah
Lap kasar dan lap halus

Membelah perut ikan

Membersihkan meja dan alat-alat
Praktikum
2.
Bahan


        -
        -
        -
        -
Ikan layang (D. russelli)
Ikan timun (L. casmira)
Tisu
Alkohol

Objek praktikum
Objek praktikum
Membersihkan meja
Membersihkan alat-alat praktikum






C.      Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini sebagai berikut:
-       Menyiapkan ikan layang (D. russelli) dan ikan timun (L. casmira) yang masih utuh serta bahan dan alat yang dibutuhkan untuk pembedahan ikan.
-       Melakukan pengambilan gambar pada ikan utuh.
-        Membuat sayatan pada penutup insang terdepan dari dasar ke atas dan teruskan agak ke bagian depan sampai rongga bagian atas dapat dikelupas dan dapat dilihat alat pernapasan tambahan.
-       Menggunting mulai dari pinggir mulut (sudut mulut) ke arah belakang sampai mulut (rahang dapat dilakukan dengan bebas dan lipatan-lipatan kulit yang terdapat pada bagian rongga mulut dapat terlihat)
-       Melakukan pengambilan gambar pada ikan yang telah dibelah bagian kepalanya. Setelah itu mengeluarkan organ-organ dari kepala ikan. Lakukan pengamatan pada organ-organ pernapasan ikan serta melakukan pengukuran jumlah filament insang, tulang lengkung insang, serta tapis insang.









IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN
A.   Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan kelompok 2 pada objek praktikum sistem pencernaan ikan layang (D. russelli) dan ikan timun (L. casmira) sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil pengamatan sistem pencernaan ikan layang (D.  russelli)   dan ikan timun (L. casmira)
No
Perameter
Ikan 1
Ikan 2
1
2
3
Jumlah upper limb rakers
Jumlah lower limb rakers
Jumlah gill rakers
42
205
27
16
43
12
Keterangan:
1. Ikan layang (D. russelli)
2.   Ikan timun (L. casmira)



 
 


B.   Pembahasan
Pernapasan adalah proses pengambilan oksigen dan pengeluaran sisa-sisa metabolisme dari dalam tubuh, berupa uap air dan karbondioksida yang dibuang melalui insang.
Ikan layang (D. russelli) memiliki jumlah lower limb rakers sebanyak 205. Bagian ini mengandung banyak kapiler-kapiler darah sehingga berwarna merah marun serta  berfungsi untuk mengikat oksigen yang terlarut dalam air. Jika dilihat dari fungsinya, maka dapat diketahui bahwa jumlah yang demikian dikarenakan pasokan oksigen di habitanya cukup terbatas. Selain itu, karena ikan ini hidup secara bergerombol sehingga suhu di sekitar area tersebut akan meningkat yang juga ikut menigkatkan laju respirasi. Habitat ikan ini juga berperan dalam meningkatkan suhu, karena habitatnya merupakan area yang tertembus oleh cahaya matahari. Hal ini didukung oleh pernyataan Prihartini (2006), ikan layang (D. rasselli) termasuk jenis ikan perenang cepat, bersifat pelagis, tidak menetap dan suka bergerombol. Serta dukungan pernyataan dari Rahardjo (2011), kemampuan darah dalam mengangkut oksigen menjadi kurang efisien pada tekanan CO2  yang tinggi, suhu lebih meningkatkan laju respirasi karena jaringan memerlukan lebih banyak oksigen pada suhu tersebut dibandingkan pada suhu rendah.
Berbeda dengan ikan layang (D. rasselli), ikan timun (L. casmira) memiliki jumlah lower limb rakers lebih sedikit, yakni 43. Jumlah ini juga disesuaikan dengan habitatnya yang merupakan daerah karang, dimana berdekatan dengan daerah lamun menyebabkan banyak pasokan oksigen masuk ke area ini. Meskipun ikan ini juga hidup secara bergerombol, namun suhu pada habitatnya cukup rendah karena berada di dasar perairan, sehingga laju respirasi tidak secepat ikan layang (D. russelli). Bagian ini juga tidak segelap filament  ikan layang (D. russelli), karena disesuaikan dengan kondisi habitatnya. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Rahardjo (2011), kemampuan darah dalam mengangkut oksigen menjadi kurang efisien pada tekanan CO2  yang tinggi, suhu lebih meningkatkan laju respirasi karena jaringan memerlukan lebih banyak oksigen pada suhu tersebut dibandingkan pada suhu rendah. Serta dari Mustasim (2007), ikan selalu mencari tempat yang sesuai dengan sifat hidupnya serta akan mengadaptasikan organ-organnya  sesuai dengan kondisi dan jumlah oksigen yang larut dalam air.  















V.    SIMPULAN DAN SARAN
A.   Simpulan
Berdasarkan praktikum sistem pernapasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ikan layang (D. russelli) dan ikan timun (L. casmira) tidak memiliki organ pernapasan tambahan, karena kedua jenis ikan ini tidak berada pada habitat yang ekstrim. Kedua jenis ikan hanya menyesuaikan jumlah bagian-bagian penyusun insangnya dengan kondisi habitat dan suplay oksigen yang ada di habitatnya masing-masing.

B.   Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan, diharapkan pada praktikum selanjutnya agar menggunakan ikan segar dimana organ-organnya masih dalam keadaan baik, sedangkan ikan yang kami gunakan pada praktikum yang lalu sudah tidak segar lagi dimana organ dalamnya ikut rusak. Sehingga berpengaruh pada pengambilan data yang tidak akurat. Akibanya kami harus mengambil data dari kelompok lain yang belum tentu datanya itu akurat.





DAFTAR PUSTAKA
Hastuty, R., Yonvitner, Adrianto, L. 2014. Tutupan Karang dan Komposisi Ikan Karang Didalam dan Luar Kawasan Konservasi Pesisir Timur Pulau Weh, Sabang. Departemen Perikanan dan Kelautan. Vol 3(2). Hal 99-107.

Manembu, I., Adrianto, L., Bengen, D.G., dan Yulianda, F. 2012. Distribusi Karang dan Ikan Karang di Kawasan Reef Ball Teluk Buyat Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis. Vol 8(1). 5 Hal.

Mustasim. 2007. Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan Layang (Decapterus sp) Berdasarkan Hubungan Faktor Oseanografi dan Hasil Tangkapan di Perairan Teluk Bone. Skripsi. 62 Hal.

Nadia, A.R. 2014. Iktiologi Kajian Ilmu Dasar Perikanan. Unhalu Press. Kendari. 357 Hal.

Nevianty, P., Yusli, W., dan  Raimundus, N. 2011. Strategi Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Ikan Ekor Kuning (Caesio cling) pada Ekosistem Terumbu Karang di Kepulauan Seribu. Jurnal Saintek perikanan. Vol 6(2). 388-51 Hal.

Prihartini, A. 2006. Analisis Tampilan Biologis Ikan Layang (Decapterus spp) Hasil Tangkapan Purse Seine yang Didaratkan di PPN Pekalongan. Tesis. 122 Hal.

Rahardjo, M.F., Sjafei, D.S., Affandi, R., dan Sulistiono. 2011. Iktiology. Lubuk Agung. Bandung. 393 Hal.

Senen, B., Sulistiono, dan Muchsin, I., 2011. Beberapa Aspek Biologi Ikan Layang Deles (Decapterus macrosoma) di Perairan Banda Neira, Maluku. Pengembangan Pulau-Pulau Kecil. ISBN: 978-602-98439-2-7. 9 Hal.

Wahyuningsih, H. dan Alenxander, T.B. 2006. Buku Ajar Iktiologi. Medan. 149 Hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penentuan Lokasi Usaha

I . PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Didalam membangun sebuah usaha, seorang entrepreneur atau yang sering kita sebut dengan seorang w...