I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Iktiologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang ikan dan semua yang menyangkut tentang
aspek kehidupannya, mulai dari tingkah laku, makanan dan kebiasaan makan,
habitat, reproduksi dan siklus hidup, morfologi dan anatomi yang menyangkut
sistem integumen, sistem urat daging, sistem pernapasan, sistem pencernaan,
sistem peredaran darah, sistem urogenitalia, sistem peredaran darah, hingga
yang sangat kompleks yaitu sistem saraf.
Secara
umum, ikan memiliki sistem pernapasan yang sama. Namun, pada beberapa jenis
ikan tertentu memiliki sistem pernapasan yang berbeda. Perbedaan ini dapat
dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya habitat, suhu, serta kebergaman
organisme di lingkungan hidupnya. Organ pernapasan ikan memegang peranan yang
sangat penting bagi kelangsungan hidupnya, contohnya pada beberapa jenis ikan
tertentu melakukan adaptasi terhadap organ pernapasannya guna menyesuaikan diri
terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya. Berdasarkan uraian di atas, maka
perlu dilakukan praktikum sistem pernapasan.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
dilakukannya praktikum ini untuk mengamati letak bagian-bagian alat yang
digunakan dalam proses pernapasan yang meliputi insang serta ada atau tidaknya
alat pernapasan tambahan yang biasanya terdapat pada beberapa jenis ikan
tertentu.
Adapun manfaat
dilakukannya praktikum ini agar praktikan dapat mengetahui letak bagian-bagian
alat yang digunakan dalam proses pernapasan yang meliputi insang serta ada atau
tidaknya alat pernapasan tambahan yang biasanya terdapat pada beberapa jenis
ikan tertentu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi
Menurut
Senen (2011), ikan layang (Decapterus russelli)
diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Chordata
Class : Actinopterygii
Order :
Percomorphi
Family :
Carangidae
Genus : Decapterus
Species : D. russelli
Gambar 1. Ikan layang (D.
russelli)
(Sumber
Dok. Pribadi, 2016)
Klasifikasi dari ikan timun (Lutjanus casmira) menurut
Hastuty (2014), sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum : Chordata
Class : Osteichthyes
Order :
Perciformes
Family
: Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Species : L. casmira

Gambar 2. Ikan timun (L. casmira)
(Sumber Dok. Pribadi, 2016)
B. Morfologi
Ikan layang (D.
russelli) merupakan salah satu komunitas perikanan pelagis kecil yang
penting di Indonesia. Ikan yang tergolong suku Carangidae ini bisa hidup
bergerombol. Ukurannya sekitar 15 cm meskipun ada pula yang bisa mencapai 25 cm.
Ciri khas yang sering dijumpai pada ikan layang (D. russelli) ialah terdapatnya sirip kecil (finlet)
di belakang sirip punggung dan sirip dubur dan terdapat sisik berlingin yang
tebal (lateral scute) pada bagian garis sisi (lateral line). Deskripsi
ikan layang biasa (D. russelli), badan memanjang, agak gepeng. Dua sirip
punggung, sirip
punggung pertama berjari-jari keras 9 (1 meniarap + 8 biasa), sirip punggung
kedua berjari–jari keras 1 dan 30 – 32 lemah. Sirip dubur berjari-jari keras 2
(lepas) dan bergabung dengan 22 – 27 jari sirip lemah. Baik di belakang sirip
punggung kedua dan dubur terdapat 1 jari-jari sirip tambahan (finlet) termasuk
pemakan plankton, diatomae, chaetognatha,
copepoda, udang-udangan, larva-larva ikan, juga telur-telur ikan teri (Stolephorus
sp). Hidup di perairan lepas pantai, kadar garam tinggi membentuk
gerombolan besar. Dapat mencapai panjang 30 cm, umumnya 20 – 25 cm. Warna: biru
kehijauan, hijau pupus bagian atas, putih perak bagian bawah. Sirip-siripnya
abu-abu kekuningan atau kuning pucat. Satu totol hitam terdapat pada tepian
atas penutup insang (Prihartini, 2006).
Ikan karang
memiliki bentuk memanjang, agak pipih,
badan tinggi, dan mempunyai gigi taring. Dari segi warna, ada yang berwarna
merah, putih kuning, kecoklatan dan perak. Merupakan predator ikan, crustaceans,
dan plankton feeder. Bentuk berbeda
antara ikan dewasa dan ikan kecil (wahyuningsih, 2006).
C. Habitat dan Penyebaran
Menurut Prihartini (2006), ikan layang (D. russelli) yang mempunyai daerah sebaran yang
luas di Indonesia, khususnya di Perairan Laut Jawa. Di Laut Jawa sangat dominan
dalam hasil tangkapan nelayan mulai dari Pulau Seribu, hingga P. Bawean dan P.
Masalembo, Selat Makassar, Selat Karimata, Selat Malaka, Laut Flores, Arafuru,
Selat Bali. D. russelli
tersebar
di perairan tertentu. Tampaknya ikan layang (D. russelli) senang hidup di
perairan dangkal seperti Laut Jawa. Ikan layang (D. russelli)
termasuk jenis ikan perenang cepat, bersifat pelagis, tidak menetap dan suka
bergerombol. Jenis ikan ini tergolong “stenohaline”,
hidup di perairan yang berkadar garam
tinggi (32 – 34 promil) dan menyenangi perairan jernih. Ikan layang (D.
russelli) banyak tertangkap di perairan yang berjarak 20 – 30
mil dari pantai. Sedikit informasi yang diketahui tentang migrasi ikan, tetapi
ada kecenderungan bahwa pada siang hari gerombolan ikan bergerak ke lapisan air
yang lebih dalam dan malam hari
kelapisan atas perairan yang lebih. Ikan layang (D. russelli) meskipun aktif
berenang, namun terkadang tidak aktif pada saat membentuk gerombolan di suatu
daerah yang sempit atau disekitar benda-benda terapung. Secara ekologis
sebagian besar populasi ikan pelagis kecil termasuk ikan layang (D. russelli) menghuni habitat yang
relatif sama, yaitu di permukaan dan membuat gerombolan di perairan lepas pantai,
daerah-daerah pantai laut dalam, kadar garam tinggi dan sering tertangkap
secara bersama.
Komunitas
ikan karang mempunyai hubungan yang erat dengan terumbu karang sebagai
habitatnya. Struktur fisik dari karang batu Scleractinia
sangat cocok berfungsi sebagai habitat dan tempat perlindungan bagi ikan
karang, dimana beberapa jenis ikan karang menggunakan habitat ini sebagai
tempat berlindung dari predator dan merupaqkan daerah yang aman untuk tumbuh
dewasa dan merupakan daerah yang digunakan untuk mencari makan dengan
memanfaatkan langsung karang tersebut (Manembu, 2012).
D. Reproduksi
Menurut
Prihartini (2006), musim pemijahan ikan pelagis kecil di perairan Laut Jawa
relatif panjang tetapi masing-masing individu lama memijah dalam periode singkat.
Keberadaan juvenil ikan layang (D. russelli) (ukuran kurang dari 12 cm) hanya terjadi pada
bulan Maret sampai Juli. Tingkat kematangan gonad ikan layang (D. russelli) pada
tingkat matang (ripe) dijumpai pada bulan April sampai Juni, sedangkan
pada tingkat lepas telur (masa istirahat dan menyerupai kantong kosong) terjadi
pada bulan sampai Desember. Juvenil
kecil telah dijumpai antara bulan Maret sampai Mei antara ukuran 6 cm. Telur
dan larva ikan layang (D. russelli) telah ditemukan di Perairan Bawean
pada bulan April–Mei dan di sekitar perairan Madura pada bulan Oktober-November.
Ikan siap memijah dan tumbuh menjadi ikan kecil (kurang dari 12 cm) terjadi
dari bulan Maret sampai Juni. Musim pemijahan terjadi pada bulan Mei sampai Desember
dengan aktifitas maksimum mulai bulan September–Desember.
Reproduksi ikan timun (L. casmira) dengan cara ovipar
(bertelur). Ikan ini biasanya bertelur dengan cara menyimpan telur di karang
atau di sekitar karang. Ikan ini bereproduksi pada musim semi di dasar perairan
berbatu (terumbu karang), ikan ini melakukan pemijahan di daerah tropis pada
umumnya terjadi setiap saat dan dapat terjadi sepanjang tahun (Neviaty, 2011).
E. Makanan dan Kebiasaan Makan
Secara biologi ikan
layang (D. russelli) merupakan plankton feeder atau pemakan plankton
kasar yang terdiri dari organisme pelagis meskipun komposisinya berbeda
masing-masing spesies copepoda, diatomae,
larva ikan. Sumber daya tersebut bersifat ‘multispecies’ yang saling
berinteraksi satu sama lain baik secara biologis ataupun secara teknologis
melalui persaingan (competition) dan atau antar hubungan pemangsaan (predatorprey
relationship) (Prihartini,2006).
Ikan
karang memanfaatkan karang secara langsung sebagai sumber makanan sekitar 50 –
70% ikan yang ada di terumbu karang merupakan kelompok ikan karnivora, 15 - 20%
kelompok herbivora dan sisanya omnivora. Ikan dari kelompok tersebut sangat
bergantung pada kesehatan karang untuk memperoleh makanannya (Manembu, 2012).
F.
Nilai
Ekonomis
Potensi
lestari sumberdaya perikanan pelagis kecil di Laut Jawa diperkirakan sekitar
340.000 ton per tahun dengan tingkat pengusahaan sudah mencapai 130,26 %,
beberapa jenis ikan pelagis kecil yang telah mengalami pengusahaan yang
berlebihan, yakni ikan laying (D. russelli),
tembang, sero dan selar. Hal ini terbukti secara biofisik antara lain
menurunnya hasil tangkapan per hari, menurunnya ukuran rata-rata ikan yang
mendominasi hasil tangkapan, dan semakin jauhnya daerah penangkapan
(Prihartini, 2006).
Ikan karang merupakan ikan target yang memiliki nilai
ekonomis penting. Ikan ini biasa tangkap untuk dikonsumsi, namun ada beberapa
pihak yang menangkap ikan ini untuk dijadikan sebagai ikan hias (Wahyuningsih, 2006).
G.
Pernapasan
Ikan
Pernapasan
merupakan proses pengikatan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida oleh darah melalui permukaan organ
pernapasan. Oksigen merupakn zat yang mutlak dibutuhkan oleh tubuh ikan untuk
mengoksidasi zat makanan berupa karbohidrat, lemak dan protein sehingga
menghasilkan energi. Pada proses pernapasan, pertukaran zat terjadi secara
difusi, yaitu suatu aliran molekul gas dari lingkungan yang berkonsentarasi
gasnya tinggi ke lingkungan yang komnsentrasi gasnya lebih rendah. Proses
difusi terjadi pada dindinmg atau membran yang tipis dan lembab serta adanya
perbedaan konsentrasi gas antara lingkungan luar dengan lingkungan dalam (kapiler darah) (Nadia, 2014).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Oktober 2016, pukul 16.00-18.00 WITA, yang
bertempat di Laboratorium Oseanografi, Gis, dan Remote Sensing, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang
digunakan dalam pelaksanaan praktikum dapat dilihat pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Alat dan bahan beserta kegunaannya
|
No
|
Alat dan Bahan
|
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Alat
|
|
|
|
-
|
Mistar
|
|
Mengukur ikan
|
|
-
|
Kertas HVS
|
|
Mengalas ikan
|
|
-
|
Alat tulis
|
|
Mencatat hasil praktikum
|
|
-
|
Baki
|
|
Menyimpan ikan
|
|
-
-
|
Pisau bedah dan gunting
bedah
Lap kasar dan lap halus
|
|
Membelah perut ikan
Membersihkan meja dan alat-alat
Praktikum
|
|
2.
|
Bahan
|
|
|
|
-
-
-
-
|
Ikan layang (D. russelli)
Ikan timun (L.
casmira)
Tisu
Alkohol
|
|
Objek praktikum
Objek praktikum
Membersihkan meja
Membersihkan alat-alat praktikum
|
C.
Prosedur
Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini sebagai berikut:
-
Menyiapkan
ikan layang (D. russelli) dan ikan
timun (L. casmira) yang masih utuh
serta bahan dan alat yang dibutuhkan untuk pembedahan ikan.
-
Melakukan
pengambilan gambar pada ikan utuh.
-
Membuat sayatan pada penutup insang terdepan
dari dasar ke atas dan teruskan agak ke bagian depan sampai rongga bagian atas
dapat dikelupas dan dapat dilihat alat pernapasan tambahan.
-
Menggunting
mulai dari pinggir mulut (sudut mulut) ke arah belakang sampai mulut (rahang
dapat dilakukan dengan bebas dan lipatan-lipatan kulit yang terdapat pada
bagian rongga mulut dapat terlihat)
-
Melakukan
pengambilan gambar pada ikan yang telah dibelah bagian kepalanya. Setelah itu
mengeluarkan organ-organ dari kepala ikan. Lakukan pengamatan pada organ-organ
pernapasan ikan serta melakukan pengukuran jumlah filament insang, tulang lengkung insang, serta tapis insang.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Pengamatan
Hasil pengamatan kelompok 2 pada objek
praktikum sistem pencernaan ikan layang (D.
russelli) dan ikan timun (L. casmira)
sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil
pengamatan sistem pencernaan ikan layang (D.
russelli) dan ikan timun (L. casmira)
|
No
|
Perameter
|
Ikan 1
|
Ikan 2
|
|
1
2
3
|
Jumlah upper limb rakers
Jumlah gill rakers
|
42
205
27
|
16
43
12
|
Keterangan:
1. Ikan layang (D. russelli)
2.
Ikan timun (L. casmira)
Pernapasan
adalah proses pengambilan oksigen dan pengeluaran sisa-sisa metabolisme dari
dalam tubuh, berupa uap air dan karbondioksida yang dibuang melalui insang.
Ikan
layang (D. russelli) memiliki jumlah lower limb rakers sebanyak
205. Bagian ini mengandung banyak
kapiler-kapiler darah sehingga berwarna merah marun serta berfungsi untuk mengikat oksigen yang terlarut
dalam air. Jika dilihat dari fungsinya, maka dapat diketahui bahwa jumlah
yang demikian dikarenakan pasokan oksigen di habitanya cukup terbatas. Selain itu, karena
ikan ini hidup secara bergerombol sehingga suhu di sekitar area tersebut akan meningkat yang
juga ikut menigkatkan laju respirasi. Habitat ikan ini juga berperan dalam
meningkatkan suhu, karena habitatnya merupakan area yang tertembus oleh cahaya matahari. Hal ini didukung
oleh pernyataan Prihartini (2006), ikan layang (D. rasselli) termasuk jenis ikan perenang cepat, bersifat pelagis,
tidak menetap dan suka bergerombol. Serta dukungan pernyataan dari Rahardjo (2011), kemampuan darah dalam mengangkut oksigen menjadi
kurang efisien pada tekanan CO2 yang
tinggi, suhu lebih meningkatkan laju respirasi karena jaringan memerlukan lebih
banyak oksigen pada suhu tersebut dibandingkan pada suhu rendah.
Berbeda dengan ikan layang (D. rasselli), ikan timun (L.
casmira) memiliki jumlah lower limb rakers lebih sedikit, yakni
43. Jumlah ini juga disesuaikan dengan habitatnya
yang
merupakan daerah karang,
dimana berdekatan dengan daerah lamun menyebabkan banyak pasokan oksigen masuk ke
area ini. Meskipun ikan ini juga hidup secara bergerombol,
namun suhu pada habitatnya cukup rendah karena berada di dasar perairan,
sehingga laju respirasi tidak secepat ikan layang (D. russelli). Bagian ini juga tidak segelap filament ikan layang (D. russelli), karena disesuaikan dengan
kondisi habitatnya. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Rahardjo (2011),
kemampuan darah dalam mengangkut oksigen menjadi kurang efisien pada tekanan CO2 yang tinggi, suhu lebih meningkatkan
laju respirasi karena jaringan memerlukan lebih banyak oksigen pada suhu
tersebut dibandingkan pada suhu rendah. Serta dari Mustasim (2007), ikan
selalu mencari tempat yang sesuai dengan sifat hidupnya serta akan mengadaptasikan
organ-organnya sesuai dengan kondisi dan
jumlah oksigen yang larut dalam air.
V.
SIMPULAN
DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan
praktikum sistem pernapasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ikan
layang (D. russelli) dan ikan timun (L. casmira) tidak memiliki organ
pernapasan tambahan, karena kedua jenis ikan ini tidak berada pada habitat yang
ekstrim. Kedua jenis ikan hanya menyesuaikan jumlah bagian-bagian penyusun
insangnya dengan kondisi habitat dan suplay
oksigen yang ada di habitatnya masing-masing.
B. Saran
Adapun
saran yang dapat saya berikan, diharapkan pada praktikum selanjutnya agar
menggunakan ikan segar dimana organ-organnya masih dalam keadaan baik,
sedangkan ikan yang kami gunakan pada praktikum yang lalu sudah tidak segar
lagi dimana organ dalamnya ikut rusak. Sehingga berpengaruh pada pengambilan
data yang tidak akurat. Akibanya kami harus mengambil data dari kelompok lain
yang belum tentu datanya itu akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Hastuty, R.,
Yonvitner, Adrianto, L. 2014. Tutupan Karang dan
Komposisi Ikan Karang Didalam dan Luar Kawasan Konservasi Pesisir Timur Pulau
Weh, Sabang. Departemen Perikanan dan Kelautan. Vol 3(2). Hal 99-107.
Manembu,
I., Adrianto, L., Bengen, D.G., dan Yulianda, F. 2012. Distribusi Karang dan
Ikan Karang di Kawasan Reef Ball Teluk
Buyat Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis. Vol
8(1). 5 Hal.
Mustasim. 2007. Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan Layang (Decapterus sp) Berdasarkan Hubungan
Faktor Oseanografi dan Hasil Tangkapan di Perairan Teluk Bone. Skripsi. 62 Hal.
Nadia, A.R. 2014. Iktiologi Kajian Ilmu Dasar Perikanan. Unhalu Press.
Kendari. 357 Hal.
Nevianty,
P., Yusli, W., dan Raimundus, N. 2011. Strategi
Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Ikan Ekor Kuning (Caesio cling) pada Ekosistem Terumbu Karang di Kepulauan Seribu.
Jurnal Saintek perikanan. Vol 6(2). 388-51 Hal.
Prihartini, A.
2006. Analisis Tampilan Biologis Ikan
Layang (Decapterus spp) Hasil Tangkapan Purse Seine yang Didaratkan di
PPN Pekalongan. Tesis. 122 Hal.
Rahardjo, M.F., Sjafei, D.S., Affandi, R., dan Sulistiono. 2011.
Iktiology. Lubuk Agung. Bandung. 393 Hal.
Senen, B.,
Sulistiono, dan Muchsin, I., 2011. Beberapa
Aspek Biologi Ikan Layang Deles (Decapterus macrosoma) di Perairan Banda
Neira, Maluku. Pengembangan Pulau-Pulau Kecil. ISBN: 978-602-98439-2-7.
9 Hal.
Wahyuningsih, H. dan
Alenxander, T.B. 2006. Buku Ajar Iktiologi. Medan. 149 Hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar